Crowdfunding, Untuk Kamu Yang Ingin Menjadi Investor

Kemaren idGeekGirls membaca artikel tentang seorang desainer yang produknya berhasil mendapat pendanaan dari situs crowdfunding Kickstarter. Seth Quest yang menawarkan ide stand iPadnya membutuhkan dana $10.000 untuk memulai produksi dan justru mendapatkan investasi sebesar $35.004 dari 440 backers (investor) yang tertarik dengan produknya. Tanpa pengalaman wirausaha dan manufaktur produk sebelumnya, hal yang ditakutkan pun terjadi. Produk stand iPad yang ditawarkan Seth tidak bisa diwujudkan karena kendala teknis.

Hanfree by Seth Quest on Kickstarter_id geek girls blog

Hanfree iPad Stand, proyek Seth Quest di Kickstarter yang menjadi awal kehancuran hidupnya

Sungguh sial bagi Seth, salah satu backers-nya adalah seorang pengacara. Pengacara tersebut langsung menuntut Seth untuk mengembalikan uang dari seluruh backers yang sudah memberikan uang mereka kepada Seth. Kegagalan Seth di Kickstarter disusul tuntutan hukum menghancurkan hidupnya. Ia kesulitan mencari pekerjaan, menderita stress berkepanjangan sampai harus pindah ke kota lain.

Apa itu crowdfunding?. Crowdfunding dalam bahasa Indonesia mungkin bisa diartikan sebagai patungan. Dalam hal ini, puluhan bahkan mungkin ratusan orang patungan mewujudkan sebuah proyek komersial. Kickstarter adalah situs crowdfunding terbesar di dunia. Bermula dari kebutuhan modal untuk mengadakan sebuah acara musik, Kickstarter kini menjadi tempat dari ribuan entrepreneur dan inovator untuk menawarkan ide mereka. Ya, ide, bukan produk. Sayangnya, sebagian besar backers, termasuk pengacara yang menuntut Seth Quest memperlakukan crowdfunding seperti belanja di toko.

Crowdfunding juga mulai merambah ke Indonesia. Situs seperti Patungan, Wujudkan dan Bursa Ide adalah situs crowdfunding yang lumayan terkenal di Indonesia. Kepompong Gendut, produser film Demi Ucok juga memakai sistem crowdfunding untuk mendanai agar film-nya bisa diputar di bioskop. Tidak mau ditipu oleh pelaku crowdfunding? hmm, mungkin kamu harus paham lebih dulu apa sebenarnya sifat alami dari crowfunding. Menurut Eric Markowitz yang tulisannya menjadi bahan dari artikel ini

what means to “crowdfund” in the first place, when there are no customers (just backers), no products (just projects), no business owners (just creators), and no payments (just pledges).

Tidak ada pembeli (customers), hanya pendukung (backers)

Semua orang yang terlibat dalam pendanaan proyek crowdfunding adalah investor dari sebuah proyek. Dengan menjadi investor artinya kamu semua terlibat dalam sebuah bisnis dimana posisi kamu adalah pemodal. Kamu harus sadar bahwa apapun yang ditawarkan melalui crowdfunding, apakah itu produk fisikal atau digital atau kegiatan, sama seperti bisnis lainnya bisa salah perhitungan, rugi atau gagal. Nah, apakah kamu siap menerima resiko menjadi investor?.

Tidak ada produk (products), hanya proyek (projects)

Kickstarter tidak pernah menyebut produk, mereka selalu menyebut proyek. Kenapa?. Karena crowdfunding bukanlah toko dimana produk jadi sudah tersedia. Di crowfunding yang ada adalah proyek, untuk menciptakan atau meneruskan produk yang belum atau sudah setengah jadi. Kalau tujuan kamu adalah ingin belanja (dan bukan memodali) produk inovatif, mungkin sebaiknya jangan melirik situs crowdfunding, tapi tunggu saja diskon akhir tahun di toko TV-Innovations.

Tidak ada pemilik bisnis (business owners), hanya pencipta (creators)

Salah satu alasan proyek-proyek di situs crowfunding cenderung sangat inovatif adalah karena pemilik proyek tersebut adalah pencipta. Rata-rata creators di Kickstarter adalah orang seperti Seth Quest, memiliki ide yang inovatif dan brilian, tapi sayangnya tanpa pengetahuan manajemen dan pengalaman produksi. Dicatatkan kira-kira 75% proyek yang berhasil mendapatkan pendanaan di Kickstarter terlambat mengirimkan produk jadi ke para backers. Tetap saja buat idGeekGirls itu adalah keberhasilan, bukan kegagalan. Mereka bukan entrepreneur lho.

Tidak ada pembayaran (payments), hanya janji (pledges)

Mungkin ini sedikit mengulang, tapi memang sebaiknya kamu selalu megingat bahwa pada saat kamu memberikan uang kamu kepada sebuah proyek crowdfunding, kamu tidaklah membeli sebuah proyek. Kamu membayari sebuah janji (kapan proyek tersebut akan selesai) dan memberi bantuan kesempatan kepada si pemilik proyek untuk menjadi seorang entrepreneur. Apabila proyek tersebut berhasil, kamu boleh bangga karena menjadi bagian dari sebuah brand yang kini didamba-dambakan banyak orang.

idGeekGirls rasa, apabila kamu memang tertarik dengan salah satu proyek crowdfunding, jangan ragu-ragu untuk memodali proyek tersebut. Resiko rugi pasti ada, tetapi yang paling penting adalah mendapat kesempatan untuk belajar menjadi investor. Kalau proyek-proyek yang kamu modali terus-menerus berhasil, mungkin sudah waktunya kamu keluar dari pekerjaan sekarang dan mulai serius menjadi investor untuk start-up di dunia nyata.

source: Inc.com

Related Post

sissy

a geek with a brain full of creative thoughts who loves tea, chihuahua, pop-punk music, doodle illustrations and writing.

You may also like...

1 Response

  1. Getlocation says:

    Ini salah satu proyek di Kickstarter dari Indonesia yang berhasil “FUNDED”
    http://www.kickstarter.com/projects/153035614/goblins-vs-zombies

    Ayo siapa yang nyusul lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UA-75327195-1