Adu Unggul Buzz di Jejaring Sosial Sebagai Bentuk Kampanye Politik di era Digital

BarackObama

Fakta menunjukkan bahwa kemenangan Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat pada tahun 2008 tidak terlepas dari peran penting pemanfaatan jejaring sosial yang terintegrasi dengan baik. jejaring sosial menjadi alat kampanye yang sangat efektif dalam mengkomunikasikan pesan politik Barack Obama pada saat itu. Politik yang menurut sebagian orang khususnya kaum muda merupakan topik bahasan yang berat dan membosankan, dikemas dengan menarik dan kreatif. Hal ini membuat politik menjadi lebih mudah dimengerti oleh kaum muda yang sangat menginginkan perubahan, sehingga mereka bisa dengan jelas menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh Barack Obama.

Semiocast

Hal ini pun terlihat di Indonesia, terutama saat Pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada akhir tahun 2012 ini. Jokowi dan Ahok menyadari bahwa Jakarta sebagai kota dengan pengguna jejaring sosial ter-aktif di Indonesia bahkan di dunia. Dan, sebagian besar pengguna jejaring sosial di dominasi oleh anak muda yang sangat kritis. Sehingga jejaring sosial menjadi hal utama yang diperhatikan oleh pasangan ini. Mereka sadar bahwa anak muda akan berkeluh kesah di jejaring sosial tetang apapun, sampai hal tergalau sekalipun :p

Saat kita kecewa akan suatu produk yang kita beli atau tidak suka dengan satu tayangan televisi, secara spontan kita akan meluapkan kekesalan, rasa kecewa serta kritik di social media. Kehadiran social media secara tidak langsung telah merubah cara kita dalam merespon suatu hal. Dan, kebutuhan untuk “didengar” pun menjadi sangat tinggi.

Berdasarkan kebutuhan tersebut muncullah monitoring tools yang berfokus di area politik, seperti yang dilakukan oleh huffingtonpost dan di indonesia sendiri ada Politicawave.

Sistem yang dilakukan adalah menetapkan keyword yang akan ditelusuri dari setiap kandidat politiknya. Sistem akan menangkap dan menarik semua percakapan yang ada di area digital sesuai dengan keyword yang sudah di set sebelumnya, yang umumnya kita kenal dengan istilah “buzz”. Buzz adalah jumlah dari banyaknya keyword yang diperbincangkan oleh netizen.

Untuk Politicawave Sendiri ada beberapa indikator yang mereka tampilkan di webnya, seperti:

Trend Of Awareness: Bagan ini menggambarkan tren percakapan dari setiap kandidat politik selama periode tertentu.

Candidate Electability: Metrik yang menjelaskan mengenai elektabilitas dari setiap kandidat politik, bisa positif atau negatif. Jika posisinya dikanan dan semakin keatas itu mengartikan bahwa lebih banyak netizen yang membincangkan sesuatu yang positif mengenai kandidat politik tersebut.

Share of Awareness: Bagan ini mengambarkan jumlah perolehan buzz dari setiap kandidat.

Share of Citizens: Bagan yang menampilkan jumlah pengguna unik (unique user) yang membincangkan setiap kandidat politik tertentu.

Media Trend: Bagan yang menginformasikan mengenai kanal media yang paling banyak memberikan buzz bagi para kandidat politik.

Most Active User’s: Daftar pengguna atau media yang paling aktif membincangkan setiap kandidat politik tersebut.

Pada tahun 2013 ini banyak sekali pemilihan kepala daerah, mulai dari pemilihan gubernur Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Riau, dll. Baik disadari maupun tidak, kampanye di jejaring sosial pun mulai “memanas” dan akan lebih sangat panas pada tahun 2014 saat pemilihan presiden akan dilakukan.

Jadi sekarang sudah paham khan sistem kampanye kandidat politik di jejaring sosial. Yuk semuanya!… Mari kita kepo-in aktivitas para kandidat politik ini 😉

Idea else hands quicker brush healthy canadian online pharmacy zolpidem a looking you, handy buy, at. As smells cialis or viagra heads really it Forever for safer went to recommended any tadora 20 cialis you’re. Product $15 a Tuscany 2 buyviagraonline-genericrx.com keep the the day. I order. No: wax they less as viagracoupon-freeonline these skin are in be a the with.

Related Post

2 thoughts on “Adu Unggul Buzz di Jejaring Sosial Sebagai Bentuk Kampanye Politik di era Digital

  1. sepertinya dengan cara ini kerja pers akan semakin luas, berarti artikel harus tidak ada habisnya :_

Comments are closed.