Typographical Art, Asal Mula Emoticon

Di zaman digital sekarang ini, emoticon tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari emoticon tradisional yang dibuat dengan memadupadankan huruf dengan angka dan icon, sampai emoticon berbentuk gambar atau animasi. Bagi yang hobi sekali chatting atau berkomunikasi dengan text, pasti terasa sekali kurangnya kekuatan emosi dalam sebuah teks yang tidak jarang menimbulkan miskomunikasi. Disanalah kekuatan emoticons untuk menambahkan unsur emosi didalam sebuah tulisan.

Orang-orang Jepang terkenal sebagai salah satu orang yang paling boros emoticon. Mereka suka sekali menggunakan emoticon, dan mungkin memiliki ratusan jenis emoticon yang bisa digunakan untuk membedakan banyak sekali emosi atau kegiatan. idGeekGirls sendiri sampai mengaktifkan keyboard Jepang di iPhone supaya bisa langsung menggunakan emoticon lucu-lucu yang sudah tersedia di keyboardnya. Kalau kamu follow twitter idGeekGirls kamu pasti tahu kalau idGeekGirls adalah penggemar berat emoticon.

Cukup mengagetkan bahwa yang pertama kali menemukan emoticon adalah orang Amerika. Berdasarkan buku 100 Diagrams That Changed the World karangan Scott Christianson, emoticon pertama di dunia dimuat disalah satu halaman majalah Puck.

Puck Magazine

Puck adalah majalah humor yang terbit di Amerika Serikat antara tahun 1871 sampai dengan 1917. Didalamnya memuat kartun berwarna, karikatur dan satir politik. Edisi yang memuat emoticon pertama adalah edisi yang terbit pada tanggal 30 Maret 1881, memuat empat emoticon: joy (senang), melancholy (sedih), indifference (biasa saja), dan astonishment (terkejut). Emoticon pertama ini diberi nama Typographical Art.

Jangan membayangkan bahwa emoticons pertama ini dibuat dengan mesin yang canggih, karena pada tahun 1881 mesin ketik saja belum ditemukan. Teknik cetak pada masa itu adalah moveable type printer, dimana cetakan huruf dari logam disusun satu-persatu di mesin cetak yang dioperasikan menggunakan tangan. Profesi desainer belumlah dikenal, yang ada adalah tukang gambar dan tukang cetak.

Jadi, kalau di zaman sekarang kita selalu mengeluh tentang betapa menyebalkannya tukang cetak yang tidak mengerti apa-apa, zaman dahulu mungkin mereka adalah orang-orang paling kreatif. Dan hasil kreatifitas mereka masih kita pakai sampai saat ini. Salut!

Related Post

sissy

a geek with a brain full of creative thoughts who loves tea, chihuahua, pop-punk music, doodle illustrations and writing.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UA-75327195-1