Cyber Bullying: Saat Media Jejaring Sosial Menjadi Media Penggencetan

Pada waktu idGeekGirls masih sekolah dulu (nggak usah buka tahunnya ya, malu), bullying atau penggencetan adalah kegiatan yang kalau dipikir-pikir sekarang bisa jadi bahan tertawaan. Saat dimana senior-senior yang sok keren dan sok berkuasa itu menelpon ke rumah dengan kata-kata pembuka “kamu jangan seenaknya ya didepan senior”. Kalau sedang apes, paling rok kita dirobek karena katanya terlalu pendek (padahal roknya mereka lebih pendek) atau disiram kuah baso (yang mereka beli dan belom habis dimakan juga).

Tampaknya, seiring dengan zaman kegiatan bullying juga makin meningkat. Yang dulunya cuma gertak sambal, menjadi mengarah ke kejahatan yang serius. Banyak kita baca di media, korban bullying perempuan yang dipaksa merokok atau berpose dengan pakaian seragam setengah dibuka atau korban bullying laki-laki yang dipaksa tawuran.

Di barat, bullying kini berkembang ke media yang membuat remaja lebih bebas sepenuhnya lepas dari pengawasan orang tuanya, yaitu media online. Online bullying atau cyber bullying, tidak pernah sepenuhnya mendapat perhatian sampai Amanda Todd seorang gadis remaja berusia 15 tahun asal Canada, ditemukan mati bunuh diri akibat cyber bullying yang dialaminya di jejaring sosial Facebook.

Amanda Todd

Dibawah adalah video yang dibuat Amanda sebelum kematiannya yang tragis. Video hitam putih tanpa suara yang hanya menampilkan rentetan kartu catatan yang menceritakan bullying yang dialaminya di jejaring social dan kehidupan nyata setelah ia diperdaya untuk memperlihatkan dadanya kepada seorang laki-laki di ruang chatting, yang lalu menyebarluaskan foto tersebut.

Bahkan setelah kematiannya, akun Facebook yang dibuat untuk mengenang dirinya pun masih dibanjiri cyber bullies yang menyebut Amanda sebagai perempuan jalang, penggoda pria, lemah dan pantas mati, sampai memposting ulang foto dada Amanda yang menjadi awal dari semua cyber bullying yang dialaminya. Benar-benar tidak berhati nurani para pelaku cyber bullying tersebut.

Mencermati fenomena tersebut, MTV membuat kampanye sosial yang diberi nama “A Thin Line” dimana sebuah film berjudul DISconnected menjadi titik pusatnya. DISconnected adalah cerita fiksi berdasarkan kejadian non-fiksi dimana kegiatan komunikasi online kita sehari-hari bisa dengan mudah menjadi cyber bullying. Tujuan dari DISconnected adalah sebagai media untuk menimbulkan kesadaran dan mendukung para remaja untuk membela dirinya apabila mengalami cyber bullying.

DISconnected

Penelitian yang dilakukan MTV bersama dengan Harmony Research Center, menyebutkan bahwa setelah menonton DISconnected para penonton remaja:

  • 49% tertarik untuk bergabung dengan kelompok penganggulangan cyber bullying.
  • Hampir 35.000 remaja menandatangani Digital Bill Rights.
  • 1 dari 5 remaja bercuit di Twitter tentang mengakhiri cyber bullying selama film masih diputar.
  • 66% bersedia untuk mendukung teman yang mengalami cyber bullying.
  • 59% penonton merasa mereka tidak akan mengirimkan pesan online yang akan menyakitkan perasaan orang lain.

Sebuah hasil yang sangat bagus, yang sayangnya kepopulerannya kalah dengan show tidak bermutu macam “Jersey Shore” atau “16 and Pregnant”.

idGeekGirls merasa, cyber bullying bisa dilakukan semua orang, tidak hanya remaja. Mungkin karena sedemikian mudahnya mengetikkan 140 karakter di layar komputer atau handphone kita, tanpa memberi kesempatan bagi otak untuk mencerna apakah yang kita tuliskan bisa jadi membuat orang atau kelompok lain sedih, marah, terhina. Kasus pada remaja pasti lebih sulit karena para orang tua mereka pasti kurang paham bagaimana cara jejaring sosial bekerja.

Sangat disayangkan DISconnected tidak bisa disaksikan di Indonesia, untuk saat ini. Mari sambil menunggu DISconnected ditayangkan di MTV Asia, kita menjadi pengguna jejaring sosial yang bertanggung jawab. Apabila orang tua kita bilang “pikir sebelum bertindak”, maka sekarang kita harus punya sikap “pikir sebelum update status”.

source

Related Post

sissy

a geek with a brain full of creative thoughts who loves tea, chihuahua, pop-punk music, doodle illustrations and writing.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UA-75327195-1