Komunitas Perempuan Geek di Kenya Memajukan Kaumnya Dan Negara Dengan Teknologi IT

Kenya, sebuah negara yang mungkin hanya kita tahu namanya, tapi tidak bisa menunjukkan lokasinya di peta. Siapa sangka di negara yang terkenal miskin di Afrika inilah, terdapat sebuah komunitas programmer perempuan yang mendedikasikan komunitasnya untuk memajukan kaum perempuan dan menyelesaikan masalah-masalah sosial di Kenya.

Susan Oguya adalah anak petani yang dibesarkan tanpa memiliki komputer. Beruntung, pamannya yang tinggal di Nairobi bersedia membawakan mereka komputer setiap liburan dan meninggalkan buku tentang komputer untuk Susan. Pada saat memasuki bangku kuliah, Susan memilih untuk belajar di jurusan IT.

Seperti juga di negara lainnya, jumlah perempuan di jurusan IT di Kenya sangatlah sedikit dibandingkan pria. Suatu hari Susan bertemu dengan Jessica Colaco di kampusnya. Jessica mengajak Susan untuk bertemu dengan para programmer perempuan lainnya. Acara rutin mereka adalah menghabiskan hari Sabtu dengan coding dan hacking. Perkumpulan inilah yang lalu berkembang menjadi AkiraChix.

AkiraChix_id geek girls blog_01

Akira dalam bahasa Jepang berarti “energy” dan “intelligent”. Dalam bahasa mereka, AkiraChix adalah

We are intelligent and we bring all our energy together to help and inspire the greater community of ladies out there

AkiraChix_id geek girls blog_02

Program utama AkiraChix adalah Training dan Mobile Garage. Training adalah pelatihan keterampilan IT bagi para remaja perempuan dari kalangan kurang dan tidak mampu. Mobile Garage adalah program kerjasama dengan universitas untuk memajukan ekonomi Kenya dengan pengembangan aplikasi mobile, inkubasi bisnis dan kewirausahaan.

Program-program AkiraChix terbukti mendapatkan hasil yang memuaskan. Program Training yang dilaksanakan pertama kali di tahun 2010, kini separuh dari seluruh lulusannya telah mendapatkan pekerjaan di bidang IT. Saat ini AkiraChix tengah mempersiapkan program training-nya yang kedua.

Susan Oguya kini tidak lagi aktif di AkiraChix. Ia mendirikan bisnisnya sendiri, M-Farm. Aplikasi mobile untuk feature phone buatannya yang memungkinkan petani untuk mengecek harga komoditas pertanian melalui handphone, agar mereka tidak mudah dibohongi tengkulak, kini digunakan oleh lebih dari 7000 petani di Afrika.

Walau dikelilingi oleh kemiskinan dan hambatan budaya (di Kenya pemisahan antara pria dan perempuan sangatlah jelas dan secara sosial posisi perempuan ada di bawah pria), semangat dan tekat yang kuat terbukti dapat menghadapi hambatan dan menghasilkan hasil yang positif baik bagi kaum perempuan maupun bagi negara Kenya.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan kaum perempuan Indonesia?. Negara kita tidak semiskin Kenya. Secara sosial dan budaya pun posisi kita di masyarakat lebih nyaman dibandingkan perempuan Kenya. Apakah kita siap memajukan perempuan dan negara Indonesia dengan ke-geeky-an kita?.

source: alltechconsidered

Related Post

sissy

a geek with a brain full of creative thoughts who loves tea, chihuahua, pop-punk music, doodle illustrations and writing.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UA-75327195-1