Identitas di Social Media: Identitas (part 1)

Sudah punya akun Social Media? Terus harus apa?

Balik lagi deh ke tujuan kamu ikutan Twitter apa? Ikutan Facebook apa?

Kalo tujuan  sekedar eksis dan reserve username, ya beres. Bikin akun, update dikit, beres deh. Mission accomplished. Tapi kalo pengen serius di Social Media, ya effort-nya juga harus serius. Contoh tujuan serius itu misalnya tujuannya untuk personal branding, atau mengorbitkan sebuah merek di Social Media. Dari seluruh penjuru tips, do and don’ts,  atau teori-teori Social Media, kami mengajukan 3 point yang kamu harus perhatikan kalo mau serius di Social Media; 3-I yaitu Identity, Interesting content, dan Interaction.

Untuk postingan kali ini, kita bahas dulu yang pertama. Identity.

masquerade by s jae-jones_id geek girls blog

Nggak kenal, maka nggak sayang. Wah, kalimat ini udah sering banget kan kita denger. Kalimat ini juga bisa diterapkan di Social Media. Kalo mau serius, kenalin diri juga harus serius. Caranya, pastikan fitur Biografi dan Display Picture di setiap channel Social Media dimaksimalkan sebaik mungkin. Jangan biarkan calon target audience kita berfikir lama “Ini siapa ya? Follow nggak ya?” saat liat profil kita.

Cek yuk.

  1. Pertama, pasang avatar yang mencerminkan bidang atau karakter kamu, haram banget hukumnya kalo kamu jual makanan di Twitter, terus avatarnya masih telor.
  2. Kedua, tulis bidang yang kamu tekuni atau produk/jasa yang ditawarkan, kalo perlu kontaknya (misal, kalo mau pesan delivery kemana). Kontak dan deskripsi ini penting banget, apalagi kalau kita mengharapkan action dari audience. Kalo nggak ada kontaknya, bingung nanti orang mau kontak kemana pas mau beli.
  3. Ketiga, pasang juga alamat web agar audience tahu harus menghubungi kemana untuk keperluan lebih lengkap. Lebih jauh lagi, jika kamu punya kemampuan desain, background-nya diganti juga dengan gambar/tulisan yang sesuai dengan identitas kamu. Maksimalkan! Kan kita komunikasinya pake saluran Social Media, penampilannya harus oke dong.

Pertanyaan berikutnya adalah, penampilan oke menurut siapa?

Menurut target audience, calon pembeli, atau pembaca kita. Nah, kalo mau serius main di Social Media, target audience-nya harus jelas. Saya suka banget menganalogikan gaul di social media itu sama pacaran di dunia nyata. Kalau kita PDKT, kita punya kriteria dong jenis pasangan kayak apa yang mau kita dekati. Kita akan selalu ingin terlihat oke di mata gebetan. Sama banget kayak di Social Media, identitas dan penampilan kita harus oke di mata target audience. Pelajari apa yang target audience suka, pastikan kita punya. Gebetan suka warna hitam? Nge-date pertama pake baju hitam.  Semua disiapkan maksimal. Nggak lebay, tapi mencerminkan karakter.

Saya percaya nggak ada yang benar dan salah di Social Media. Semua case by case, semua tergantung tujuan. Gini contohnya: “Boleh nggak pasang avatar telor dan pake username huruf-angka di Twitter?”  Menurut saya, kalau memang target audience-nya adalah teman-teman yang punya karakter seperti itu, kenapa nggak? Itu sama pertanyaannya seperti, “Boleh nggak mau pergi nge-date pertama nunjukkin tatto tengkorak di lengan?” Ya, kalo emang target PDKT-nya adalah cewe rocker yang doyan cowo tatto-an, kenapa nggak?

Social Consciousness boleh bilang kalo cowok keren itu adalah yang rapi jali bercelana chino, kemeja flanel, dan wangi maskulin. Tapi cowo urakan ber-tatto selalu punya pasar kok. Kayak yang dibawah ini nih ehem  😉 Got what I mean?

Adam-Levine

Share dong Identitas kamu di Social Media gimana? 

Baca juga:
Part 2: Konten
Part 3: Interaksi

*Image courtesy of S. Jae-Jones

Related Post

You may also like...

2 Responses

  1. Nugie says:

    Bagian ketiganya mana nih, mbak? Muehehehe..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UA-75327195-1